Jejak Islam di Pulau Bali


Jumat, 28 Agustus 2009 | 00:32 WIB

tribunpekanbaru.com - "Pulau Bali banyak memiliki tempat-tempat bersejarah, karena agama Islam masuk ke Bali pada zaman kerajaan lebih dari 500 tahun silam," Kepala Bidang Bimas Islam dan Penyelenggara Haji Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali Haji Musta’in SH di Denpasar, akhir pekan kemarin. 

Ia mengatakan, tempat-tempat bersejarah atau makam tersebut hingga kini masih utuh dan terawat dengan baik di berbagai tempat di Bali.

Al Quran dan mimbar tua di Masjid Assyuhada dan nisan kuburan di lingkungan Kampung Bugis merupakan "saksi bisu" masuknya Islam ke Kelurahan Serangan, Denpasar pada abad ke 17.  

Hal itu berawal dari pendaratan sebuah perahu dari Jawa ke Denpasar di masa kekuasaan Raja Tjokorda Pemecutan III. Raja Tjokorda bergelar Betara Sakti karena memiliki kesaktian yang luar biasa. Ketika itu, kerajaan Pemecutan tengah berseteru dengan tetangganya, Kerajaan Mengwi, yang akhirnya meletus peperangan.
    
Diplomasi mulut atau musyawarah tampaknya tidak mampu mencegah perang bersenjata, sehingga berlaku hukum rimba, yakni siapa yang kuat dialah pemenangnya.
    
Para pendatang dari Jawa yang terdampar karena perahu mereka rusak kemudian dimanfaatkan oleh raja Pemecutan sebagai prajurit yang membantu mengempur Kerajaan Mengwi.
    
"Prajurit" pendatang tersebut dipimpin oleh Raden Sastroningrat, seorang bagsawan kelahiran Madura (Jatim). Raja Pemecutan berjanji, jika Sastroningrat membantu mengalahkan Mengwi, ia akan dinikahkan dengan salah seorang putri Pemecutan. Akhirnya, pasukan gabungan Kerajaan Pemecutan dan para pengawal Raden Sastroningrat berhasil memenangkan pertempuaran atas Kerajaan Mengwi.

Raja Pemecutan III menepati janjinya. Sastroningrat dikawinkan dengan putri raja bernama Anak Agung Ayu Rai.
    
A A Ayu Rai wafat dan dikuburkan di tempat pemakaman "Setra Ganda Mayu" Badung yang lokasinya berdekatan dengan puri raja Pemecutan. Sampai sekarang makam tersebut dikenal dengan nama "pura keramat puri Pemecutan".
    
Haji Musta’in menjelaskan, tempat makam tersebut selama bulan suci Ramadhan banyak diziarahi oleh umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia maupun mereka yang yang telah menjadi warga Bali. (kompas.com)

komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

 

Assalamualaikum. Bun, ini Redi di Pematang Reba. Bun, tolong tanyakan ke Telkomsel donk Bun, bagaimana caranya SMS atau telepon ke luar negeri (Malaysia) dari Simpati dan berapa tarifnya. Terimakasikasih Pengirim: +6281376810XXX

Selamat ulang tahun Tribun, maju terus ya. Tolong cari tahu dong bagaimana prosedur dan syarat pengurusan izin toko obat? tks before Pengirim: +6281268246XXX

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 IT tribunpekanbaru.com (Dinoz). All rights reserved