|
Seperti Iklan Obat
Rabu, 16 September 2009 | 01:44 WIB
PUASA adalah hari pengontrolan diri yang sejatinya harus berdampak positif bagi diri sendiri dan masyarakat sekitar. Namun, apa yang terjadi pada sebagian masyarakat kita yang sedang melaksanakan ibadah puasa? Realitas sosial membuktikan, kita masih menyaksikan di beberapa tayangan media elektroknik, bahwa sambil berpuasa, sebagian masyarakat kita ada yang melakukan tindakan anarkis.
Mereka melakukan tawuran, amuk massa, "perang" batu, bentrokan, dan tindakan-tindakan preman lainnya. Adakah yang salah dari pelaksanaan ibadah puasa yang dijalankan masyarakat kita? Mengapa mereka yang sedang berpuasa masih juga melakukan tindak kekerasan? Mengapa ibadah puasa yang intinya pengendalian diri tidak mampu mencegah masyarakat untuk berbuat anarkis? Orang boleh berkata, "Ibadah puasa adalah benar sebagai perintah Tuhan, yang salah adalah umatnya. Yang salah adalah yang mengamalkannya.
" Tetapi perlu kita ingat, ibadah apa pun namanya, termasuk ibadah puasa, pada akhirnya baik-buruk yang terkandung dalam perintah ibadah tersebut akan dilihat bagaimana dampak dan wujudnya yang ditunjukkan oleh para pengamalnya. Mirip obat, betapa pun muluk-muluk dan indah iklannya, orang akan menghargai dan membeli atau menolak obat itu setelah terbukti oleh mereka yang meminumnya.
Jadi, meski perintah ibadah (puasa) berasal dari Allah, pada urutannya yang dinilai adalah dampak bagi pelakunya. Baik dan buruk sebuah perintah (puasa) akan dilihat dari fungsi dan dampaknya dalam kehidupan nyata. Apakah benar-benar bagaikan obat penawar dan air penyejuk atau tidak sama sekali mendatangkan manfaat, terpulang pada masyarakat yang melaksanakan .
Ibadah puasa adalah jalan. Tujuannya untuk membuat kita menjadi insan muttaqin. Kategori "orang-orang bertakwa" tidak semata seseorang yang berhasil mendekati Tuhan, tapi juga yang mampu membangun relasi sosial yang baik dan mampu menciptakan masyarakat berkeadaban.
Dengan berpuasa dan melaksanakan ibadah lainnya kita diharapkan mampu melakukan pengendalian diri dari berbagai tindakan anarkisme yang dapat merusak tatanan masyarakat yang dicita-citakan. Oleh karena itu pesan puasa adalah juga mengendalikan pikiran, omongan dan tindakan yang menciptakan kesusahan bagi orang lain.
Sekali lagi, pertanyaan yang selalu muncul adalah, mengapa orang rajin berpuasa dan mendirikan salat tetapi masih mau berbuat kerusakan bagi lingkungannya? Mengapa masih juga muncul watak tribalisme-anarkisme yang potensial menyulut amuk massa, tawuran, dan konflik? Fenomena kekerasan dalam sejarah Islam memang sulit diingkari.
Sikap tribalisme-anarkisme antara Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah adalah contoh sejarah yang tak terbantahkan.Pada satu sisi mereka memiliki semangat menjalankan perintah agama, termasuk ibadah puasa, dan pada lain sisi secara bersamaan mereka dengan ambisi dinastiismenya tidak segan-segan menggunakan kekerasan di dalam menindas sesama muslim.
Semangat tribalisme-anarkisme yang bercampur aduk dengan ideologi keagamaan yang cenderung eksklusif ini jelas masih terjadi di sekitar kita, sebuah bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Seharusnya puasa yang datang setiap tahun menjadi media perenungan dan transformasi diri untuk mengakhiri tradisi konflik yang telah berlangsung ratusan tahun itu.
Masyarakat Indonesia pun tradisi kekerasan dan perang saudara sejak zaman Ken Arok, yang juga masih menggejala akhir-akhir ini dengan wujudnya yang halus, tersamar sampai yang nyata. Ya, Tuhan, jauhkan kami dari malapetaka besar, karena warisan dan tradisi tribalisme-anarkisme yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan masyarakat Indonesia. Semoga puasa dan ibadah kami mampu menciptakan perdamaian di bumi pertiwi ini. (*)
komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
|
Bun, pencairan dana Jamsostek bisa tidak diambil oleh anak atau istrinya. Sebab bapak kami sudah tidak ada. Tolong konfirmasi ke pihak Jamsostek ya bun
Pengirim: +6281535019XXX Bun, tanyakan ke Dinas Pendidikan, kapan uang tunjangan SBY untuk guru dibagikan?
Pengirim: +6281268324XXX
Jumat, 18 September 2009 | 21:35 WIB Jumat, 18 September 2009 | 00:25 WIB Rabu, 16 September 2009 | 01:44 WIB Selasa, 15 September 2009 | 00:33 WIB Minggu, 13 September 2009 | 01:06 WIB Sabtu, 12 September 2009 | 01:41 WIB Jumat, 11 September 2009 | 01:22 WIB Rabu, 9 September 2009 | 23:07 WIB
|