|
Kita Naik Kelas
Jumat, 18 September 2009 | 21:35 WIB
KEHADIRAN Ramadhan setiap tahun hendaknya tidak difahami sebagai aktivitas rutin dan siklus tahunan. Kita harus memahami dan memaknainya sebagai proses metamorfosis peningkatan kualitas iman dan takwa.Itulah sebabnya setelah Ramadhan berakhir kita memasuki bulan Syawal, yang berarti tangga naik jenjang.
Sedangkan kata Ramadha dalam bahasa Arab klasik mengandung konotasi semacam tungku yang amat panas untuk membakar besi-besi agar karatnya berguguran. Dengan begitu, memasuki Syawal kualitas dan kelas kita naik jenjang. Di penghujung Ramadhan ditutup dengan ibadah zakat, dan dilanjutkan salat Idul Fitri.
Ramadhan yang di dalamnya ada Nuzul Quran, zakat, dan Idul Fitri adalah suatu rangkaian kurikulum dari Tuhan bagi orang-orang beriman, agar semakin tinggi takwanya.Setiap menjelang perpisahan dengan Ramadhan, emosi saya mirip dengan saat mau melakukan thawaf wada' atau thawaf perpisahan di Masjid Haram.
Hati terasa berat berpisah dan meninggalkan Baitullah dengan suasana yang sangat spiritual dan serba damai itu. Ada kesedihan, keharuan, sekaligus kelegaan dan kegembiraan. Semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam hati. Rasanya ingin menangis, sekaligus tersenyum. Sedih, karena belum tentu bersua kembali dengan "bulan seribu bulan", yang penuh rahmah dan magfirah.
Sedih, karena siapa tahu kita tidak mendapat kesempatan lagi untuk melibatgandakan pundi-pundi kebajikan sebagai bekal perjalanan kita ke alam akhirat kelak.Namun juga lega dan gembira, karena kita mampu menuntaskan kewajiban ibadah puasa dengan beragam tantangan dan godaannya.
Gembira, karena kita bersempatan berlatih mengendalikan diri untuk meningkatkan kecerdasaan emosional, spiritual, dan badan menjadi lebih sehat.
Lebih dari itu semua semoga ketakwaan kita meningkat sehingga layak menerima sertifikat Idul Fitri, kembali kepada kesucian kita.Semoga dengan berpuasa sebulan kita berhasil menjernihkan penglihatan, pendengaran, pemikiran, dan perilaku kita, sebagai bekal menghadapi puasa sosial sebelas bulan mendatang yang tidak kalah beratnya.
Kita diajak memandang dunia lebih objektif dengan ukuran kemanusiaan universal yang terpancar dari kefitrian kita.Ketika pandangan itu dihadapkan kepada sosok diri kita sebagai bangsa, kita malu pada Tuhan, bahwa kita sebagai bangsa ternyata masih sangat rendah peradabannya, kezaliman dan korupsi masih juga terjadi di mana-mana.
Penyambutan hari Idul Fitri begitu meriahnya. Pusat-pusat ekonomi, seperti mal dan pasar, dipenuhi manusia untuk membeli keperluan Lebaran. Pusat-pusat transportasi, seperti terminal, stasiun, bandara, pelabuhan, dan jalanan, dipadati orang-orang mudik yang telah mentradisi. Pulang mudik ini sangat banyak manfaatnya, antara lain kita akan berjumpa dengan sanak saudara, handai tolan, dan keluarga, untuk saling bersilaturahim yang diiringi dengan saling memberi dan menerima maaf.
Lebih bagus lagi jika mudik tahunan menjadi sarana untuk mewujudkan keadilan sosial, berbagi rezeki dengan saudara-saudara di kampung yang kurang beruntung secara ekonomi.Idul Fitri adalah pesta kemenangan, wujud terima kasih atau rasa syukur kita kepada Tuhan atas kemenangan memelihara amanah kesucian ruhani. Sehingga, kita bisa meneruskan tugas-tugas kemanusiaan secara lebih jernih, segar, dan lebih bertanggungjawab di masa-masa mendatang.
Idul Fitri merupakan sebuah kelahiran kembali anak manusia, bagaikan kuncupnya pohon lotus yang begitu indah, meskipun ia tumbuh dan besar dari air yang berlumpur.Ajaran agama yang begitu suci dan agung akan membuahkan nilai-nilai yang suci dan agung pula, hanya jika dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh kita yang berhati suci pula, yang senantiasa menyebarkan kasih dan kedamaian kepada sesama manusia.
Salah satu hikmah Idul Fitri yang bisa kita petik, bahwa agar kita mampu bersikap polos dan lugas dalam melihat diri sendiri yang paling primordial, yang pada dasarnya suci sebagai makhluk spiritual. Namun, tidak bisa luput dari pengaruh dan percikan noda. Noda dan debu-debu itu merupakan konsekuensi bagi siapapun yang memasuki medan perjuangan hidup ini. Kita tidak mungkin terhindar dari dosa dan kesalahan.
Nah, di hari raya Idul Fitri ini mari kita saling memberi maaf, sehingga dengan kondisi hati yang lapang maka kehidupan pun akan terlihat dan terasa lapang.Memaafkan itu sehat dan menyehatkan, dan siapa yang menyimpan benci dan dendam pada sesasamanya, maka dirinya yang akan sakit dan sempit dadanya.
Orang yang pandai memaafkan tidak akan ketinggalan kereta kemenangan dan kebahagiaan. Idul Fitri ini, karenanya, adalah kesempatan emas untuk saling memaafkan. Sebaiknya kita tidak menunda-tunda momen yang baik ini, karena kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Kita tidak usah segan-segan meminta maaf kepada seseorang jika kita berbuat salah kepadanya.
Bila kita berada dalam posisi menerima maaf, maka hati kita harus terbuka, tulus, dan ikhlas. Kalaupun kita tidak bisa berjumpa langsung, kita saling memaafkan melalui media elektronik yang semakin canggih. Bisa dengan menelepon langsung, mengirim pesan maaf melalui SMS, email, atau menuliskannya di Facebook.
Tidak hanya memaafkan, bahkan kita dianjurkan untuk selalu mendoakan keselamatan bagi sesama manusia dan sesama muslim lainnya.Begitu indahnya ajaran yang terkandung di dalam Idul Fitri, sebuah perta kemenangan spiritual untuk menciptakan kehangatan dan ketulusan sosial. Ya, Tuhan, berilah kami kekuatan dan kesungguhan untuk meneruskan perjuangan di dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan ini, sehingga kami kembali kepada kefitrian kami.(*)
komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
|
Bun, pencairan dana Jamsostek bisa tidak diambil oleh anak atau istrinya. Sebab bapak kami sudah tidak ada. Tolong konfirmasi ke pihak Jamsostek ya bun
Pengirim: +6281535019XXX Bun, tanyakan ke Dinas Pendidikan, kapan uang tunjangan SBY untuk guru dibagikan?
Pengirim: +6281268324XXX
Jumat, 18 September 2009 | 21:35 WIB Jumat, 18 September 2009 | 00:25 WIB Rabu, 16 September 2009 | 01:44 WIB Selasa, 15 September 2009 | 00:33 WIB Minggu, 13 September 2009 | 01:06 WIB Sabtu, 12 September 2009 | 01:41 WIB Jumat, 11 September 2009 | 01:22 WIB Rabu, 9 September 2009 | 23:07 WIB
|