Namun saat itu, dirinya hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Maklum, Ia masih duduk di bangku SMA dan belum paham ataupun mengetahui benar tentang hukum."Saat itu ada teman yang curhat tentang warisan keluarga. Tapi saya belum paham dengan hukum, jadinya tidak bisa bantu apa-apa," kenangnya.
Kemudian pengalaman itu menjadi pemicu pada diri Dien untuk lebih memahami seluk beluk hukum hingga akhirnya mengantarkannya untuk mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau (UIR)."Motivasi saya yang utama adalah ingin bisa membantu orang-orang terdekat dan keluarga,"katanya. Dan itu terbukti setelah ia mengambil spesialisasi sebagai advokat, setelah tamat dari Fakultas Hukum.
Dien kini bisa melakukan pembelaan atau menolong orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan bantuan hukum.Kini, Dien memiliki sebuah biro Advokat dan Penasehat Hukum Yoendra (Yoanna-Dien-Rafni) & Rekan. Di situ, ia berkolaborasi dengan dua orang rekan sesama perempuan pengacara.Selain itu bidang hukum memberikan tantangan tersendiri bagi Dien. Karena ada banyak masalah dan kasus yang harus siap dihadapinya.
"Jadi pengacara itu artinya kita harus siap dengan segala sesuatu yang tidak kita ketahui. Setiap kasus memiliki keunikan masing-masing dengan orang yang berbeda-beda. Jadi lebih bervariasi dan lebih menantang. Bahkan bisa jadi di tempat yang berbeda-beda," terangnya. Berkutat di bidang hukum juga berarti ia harus siap berhadapan dengan orang-orang yang melawan hukum. Dan terkadang orang-orang itu melawan hukum melalui jalur yang lain. Hal tersebut juga pernah dialaminya.
Yakni menghadapi lawan yang menggunakan kekuatan magis atau mendapat ancaman. Tapi dengan dukungan timnya, ia tak gentar menghadapi ancaman itu. Seperti dalam sebuah kasus dimana satu tim Dien mendapat pengalaman mengerikan, yaitu kencing darah."Saya pernah mendapatkan sebuah kasus sengketa tanah. Lawan di pengadilannya menggunakan jalur lain yakni magis. Tapi saya percaya dengan Yang di Atas saja dan tetap di jalur yang benar.
Akhirnya masalah itu dapat diatasi juga," paparnya.Tantangan lain yang dihadapinya adalah ketika harus menyelesaikan kasus di lokasi yang jauh. Misalnya saat menangani kasus di Tapung, Dien harus bolak-balik selama tiga hari berturut-turut. Memang melelahkan, namun justru itu dirasakan sebagai tantangan. (ans)