|
|
|
/ Home / Dumai Region /
Kota Duri Diliputi Kabut Asap
tribun/melvinas
" " Jumat, 30 Januari 2009 | 11:31 WIB
Laporan :
DURI, TRIBUN - Sebuah bendera berwarna kuning milik PT Chevron Pacifik Indonesia (CPI) berkibar. Masyarakatpun diminta waspada dan mengurangiaktifitas diluar rumah. Sebab bendera tersebut memiliki arti bahwa kualitas udara saat itu berbahaya bagi manusia. Sambil menutup hidung menggunakan sapu tangannya, Ani guru sekolah dasar di Kelurahan Pematang Pudu, Duri tampak terburu-buru menunggu kendaraan di Simpang Mawar, Kamis (29/1). Ia menggerutu, mobil jemputannya telat datang. Namun, itu bukan persoalan utama. Yang paling membuatnya gusar karena udara siang itu terasa menyesakkan. Selain menusuk hidung karena aromanya yang beda dari bisanya, kabut asap membuat mata terasa agak pedih. "Waduh, susahnya bukan main. Kabut asap sangat mengganggu pernafasan. Kasihan anak-anak kalau bermain di luar," katanya kepada Tribun yang menghampirinya. Sejak subuh, kota Duri sekitarnya memang sudah diliputi kabut asap. Keadaan ini bahkan bertahan hingga menjelang siang. Beruntung, Kamis sore, hujan sesaat mengguyur kota Duri hingga kabut bisa sedikit berkurang. PT Chevron Pacific Indonesia pada pukul 10 siang mencatat indeks pencemaran udara berada pada level tidak sehat. Di wilayah Duri Field indeks pencemaran direkam pada angka 107 (tidak sehat). Kondisi di Duri Camp justru lebih parah dengan indeks pencemaran menembus angka 166. Bendera kuning milik PT Chevron pun "berkibar" untuk menunjukkan kondisi udara yang berbahaya bagi masyarakat. PT Chevron memberi himbauan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan karena kualitas udara sudah bersifat merugikan kesehatan masyarakat. "Hasil analisis pencemaran menunjukkan kondisi udara tidak sehat. Dihimbau agar aktivitas di luar ruangan dikurangi," terang bagian Public Relation PT CPI Tiva Permata, Kamis (29/1) siang lewat pesan singkat yang diterima Tribun. Pencemaran udara yang diduga kuat sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Duri sekitarnya memang sudah berlangsung sejak lima hari terakhir. Hanya saja, hari ini kabut asap berlangsung lebih lama hingga menjelang sore hari. Rabu kemarin, diberitakan hanya ada dua titik api di wilayah Kecamatan Pinggir. Kabut asap yang terjadi hari ini pun terbilang aneh. Pasalnya, institusi terkait justru belum mengetahui asal asap tersebut. Apakah merupakan kiriman dari wilayah perbatasan Bukit Batu, Bengkalis atau justru berasal dari kawasan hutan dan lahan di wilayah dekat perkotaan. Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Dinas Kehutanan Kecamatan Mandau Elmayanti menjelaskan, belum menerima laporan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerjanya. Ia masih mengirimkan anggota untuk mengecek ke lapangan sumber asap tersebut. "Kita masih turunkan anggota ke lapangan. Nanti hasilnya akan saya kabari," kata Elmayanti yang baru awal 2009 lalu mutasi di instansi tersebut. Kawasan yang rentan terjadi kebakaran yakni di wilayah Pematang Pudu dan Desa Petani di Kecamatan Mandau. Dalam peristiwa pembakaran lahan beberapa waktu lalu, sumber api dideteksi di daerah ini. Selain membuka kawasan hutan untuk areal perkebunan, masyarakat juga memanfaatkan musim kemarau ini untuk membersihkan lahan mereka. Dampaknya, hembusan angin membawa asap pembakaran lahan ke wilayah perkotaan. (ran) KOMENTAR ANDAkomentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
|
Terkini
|