Sempat Terhenti di Zaman Jepang
vladimir
" "
Rabu, 12 Agustus 2009 | 00:07 WIB
Laporan :
  • Sejarah Pacu Jalur di Tepian Narosa Teluk Kuantan

ABU Bakar Siddik termasuk tokoh Kuansing yang merasa bangga dengan tradisi Pacu Jalur di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Sengingi (Kuansing). Sebab ribuan orang akan berdatangan melihat arena pacu perahu panjang ini saban tahun dari berbagai penjuru daerah.

Praktis berdampak ekonomi kepada masyarakat sekitar. Maka tak heran, budaya tradisional ini terus dipertahankan sejak puluhan tahun silam.Bahkan tradisi ini sempat dijadikan sebagai momen untuk peringatan Kelahiran Ratu Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus oleh penjajah Belanda.

"Ketika itu kita tak punya pilihan dan harus mengikuti keinginan Belanda, termasuk menjadikan tradisi pacu jalur untuk peringatan hari Kelahiran Ratu Wilhelmina. Namun pasca proklamsi kemerdekaan, momennya kembali disesuaikan," ujar Abu saat bincang-bincang dengan Tribun, Selasa (11/8).

Kegiatan pacu jalur ini cendrung mengikuti gelombang kehidupan masyarakatnya kala itu.kibatnya waktu pendudukan Jepang, tradisi ini sempat terabaikan. Bahkan memasuki tahun 1950-an, tradisi Pacu Jalur ini belum kembali dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Rantau Kuantan.

Satu tahun kemudian, setelah perekonomian masyarakat berangsur-angsur normal, barulah Pacu Jalur kembali menggeliat.Bahkan dalam rentang tahun 1951-1952 sempat muncul pacu perahu yang bermuatan hanya sekitar 7-15 orang. Kemudian muncul lagi yang lebih besar dengan muatan sekitar 25 orang di beberapa kampung di wilayah Rantau Kuantan.

Sesudah itu muncullah kembali jalur dengan segala kesempurnaannya mengisi sejarah kehidupan masyarakat, dengan perhelatannya mengambil moment peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus hingga sekarang.Tidaklah berlebihan jika saat ini dikatakan bahwa pacu jalur dalam peringatan HUT RI, merupakan hari terbesar bagi masyarakat Kuansing.

Dalam catatan terakhir pelaksanaan Pacu Jalur tahun 2007 lalu, diikuti sekitar 173 peserta jalur yang meliputi utusan berbagai wilayah di Riau, termasuk provinsi lain.Iven ini juga tercatat sebagai agenda pariwisata nasional dan diupayakan menjadi iven internasional.

Pada perhelatan pacu jalur tahun 2006, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik secara terbuka mengaku kagum dengan pacu jalur.Pacu jalur tahun 2009 ini juga tergolong sukses. Kendati pengunjungnya tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Namun apa pun kondisinya, pacu jalur adalah bagian dari sejarah daerah ini yang harus terus dilestarikan. (kasri)
 

KOMENTAR ANDA

komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

 

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 IT tribunpekanbaru.com (Dinoz). All rights reserved