SEMINGGU yang lalu, seorang teman mengeluhkan sumurnya yang kering. Tiga hari yang lalu, satu teman lagi menceritakan kalau dia merasa suhu udara Pekanbaru begitu panas. Kemarin saya bertemu dengan teman lagi, dia menceritakan udara Kota Pekanbaru sudah tidak sehat, "rasa" asap begitu terasa.
Hari ini, saya dikirimi SMS, kalau Kota Pekanbaru bisa menjadi kota pembunuhan massal lewat alam dan lingkungannya.Jumlah penduduk Kota Pekanbaru yang sudah pada angka 667.775 jiwa, beriring sejalan dengan padatnya hunian, dari rumah gedongan sampai kardusan. Belum lagi pusat-pusat perkantoran, pertokoan, hotel, mall dan pabrik.
Padatnya bangunan "memakan" korban bernama RTH (ruang terbuka hijau), termasuk taman kota atau hutan kota di dalamnya. Berkurangnya permukaan hijau berarti produksi oksigen juga menurun. Jika tiap 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering per hari dan setiap 1 gram berat kering setara memproduksi oksigen sebanyak 0,9375 gram.
Jika sebuah rumah tipe 36 m2 dibangun, maka produksi oksigen yang berkurang adalah 1.822.5 gram. Berapa banyak perumahan di Kota Pekanbaru? Nah, secara kasat mata, kita bisa melihat di Kota Pekanbaru, luasan mana hutan beton dari pada hutan kota? Wajar, bila kita yang tinggal di Pekanbaru sudah rebutan oksigen segar dan udaranya terasa panas.
Setiap manusia dalam satu hari membutuhkan ½ kg oksigen dan sebuah pohon menghasilkan 1 kg oksigen. Artinya dalam satu hari dua orang manusia membutuhkan satu pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigennya. Kembali kita bertanya, dalam satu rumah ada berapa orang penghuninya? Lalu, ada berapa pohon yang yang tumbuh di sekitar rumahnya? Di Malaysia, ditetapkan standar pemenuhan kebutuhan tamannya adalah 1,9 m2/orang, sementara di Jepang minimal 5 m2/orang.
Untuk Indonesia dan Kota Pekanbaru berapa luas? Tampaknya belum ada patokan.Hutan kota dapat berperan dalam membantu fungsi hidrologi dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir. Diperkirakan untuk setiap hektare ruang terbuka hijau, mampu menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Sehingga kekeringan sumur penduduk di musim kemarau dapat diatasi.
Sekarang sedang digalakkan pembuatan biopori di samping untuk dapat meningkatkan air hujan yang dapat tersimpan dalam tanah, juga akan memperbaiki kesuburan tanah. Pembuatan biopori sangat sederhana dengan mengebor tanah sedalam satu meter yang kemudian dimasuki dengan sampah, maka di samping akan meningkatkan air tersimpan juga akan meningkatkan jumlah cacing tanah dalam lubangan tadi yang akan ikut andil menyuburkan tanah.
Harus disadari, peran pepohonan tidak dapat digantikan yang lain adalah berkaitan dengan penyediaan oksigen bagi kehidupan manusia. Setiap satu hektare ruang terbuka hijau diperkirakan mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk per hari, membuat dapat bernafas dengan lega.
Dan setiap 1 hektare daun-daun hijau dapat menyerap 8 kg CO2 yang setara dengan CO2 yang diembuskan oleh napas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang sama. Jika saat ini penduduk Kota Pekanbaru berjumlah 667.775 jiwa, maka kita perlu lebih kurang 3.338 hektare hutan kota.
Nah, sekarang sudah ada berapa hektare hutan kota di Pekanbaru? Jika warga Kota Pekanbaru tidak mau kehabisan oksigen segar atau mati kehabisan oksigen, maka pemerintah dan masyarakatnya harus secepatnya membuat kebijakan, rencana dan program pemeliharaan dan penambahan taman dan hutan kota. Segera! (*/nng)
saya sangat mendukung artikel ini, tetapi saat ini yang jadi masalah bagaimana kita mengkapanyekan hal ini, sudah adakah organisasi yan benar-benar berkomitmen terhadap hal ini secara totalitas, jika sudah ada bagaimanakah saya dapat bergabung, paling tidak ikut berpartisipasi
saya sangat mendukung artikel ini, tetapi saat ini yang jadi masalah bagaimana kita mengkapanyekan hal ini, sudah adakah organisasi yan benar-benar berkomitmen terhadap hal ini secara totalitas, jika sudah ada bagaimanakah saya dapat bergabung, paling tidak ikut berpartisipasi