SDM Kita Masih Tertinggal

" FADHILLAH ALMAUSULY, Mahasiswa Universitas Islam Riau. "
Jumat, 28 Agustus 2009 | 00:36 WIB
Laporan :

TAK sedikit dana pemerintah yang tersedot untuk kepentingan pemilu legislatif lalu. Kini para wakil rakyat itu sudah siap untuk dilantik. Mudah-mudahan dana yang tersedot tidak sedikit itu, diimbangi dengan profesionalisme mereka sebagai wakil rakyat yang sesungguhnya.

Jika akhirnya nanti mereka tak bisa bekerja sebagaimana yang diharapkan masyarakat, sungguh sangat kita sayangkan dan alangkah baiknya dana pemilu yang sudah dikeluarkan itu diperuntukkan untuk kepentingan pendidikan dan membantu fakir miskin. Sebab itu lebih nyata hasilnya.

Sektor pendidikan memang perlu menjadi perhatian serius untuk diperjuangkan. Sebab Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Riau hari ini masih tertinggal dengan daerah lainnya yang sudah dulu maju. Berbagai ketertinggalan ini harus digesa pembangunannya.Anggaran pendidikan yang sudah diposkan kita harapkan betul-betul dimanfaatkan untuk pendidikan tanpa korupsi.

Sebab birokrat kita cenderung senang menghabiskan anggaran untuk memenuhi hasrat sebagian kaum yang berupaya untuk menggunakan kontitusi sebagai sarana penghidupan.Permasalahan pendidikan di negeri kita ini bukanlah suatu hal yang baru. Berpuluh-puluh tahun lalu, sudah mengabaikannya dan sekarang baru terasa dampaknya.

Kita dijajah dan terus dijajah oleh dunia luar, termasuk kita yang ada di Riau.Ketika negeri tetangga memacu bidang pendidikan dengan mengalokasikan anggaran 20 persen, kita hanya mampu memberikan 3-4 persen saja dari APBD untuk pendidikan. Itu pun sebagian dikorupsi. Ketika negeri tetangga memberi kesempatan kepada pemuda-pemudinya menimba ilmu ke negara-negara yang lebih maju, kita hanya mengirim 1-2 orang saja.

Di Riau ketika otonomi dilancarkan, dengan pemekaran daerah dan dana yang jauh lebih besar daripada sebelum otonomi, kepedulian akan pendidikan masih tersendat-sendat. Eforia otonomi dengan uang yang relatif banyak, para pemimpin dan para wakil rakyat lebih sibuk membenahi fasilitas birokrasi dan fasilitas dirinya.

Kemudian lebih sibuk membangun fisik daripada membangun pendidikan dan moral, padahal penyakit terbesar kita hari ini adalah pendidikan dan moral. Lambannya gerak pembangunan kita salah satunya berpuncak dari rendahnya kualitas SDM yang ada dan juga lemahnya tingkat intelektual dari pemimpin dan dewan perwakilan kita.

Jadi akar permasalahan ini adalah pendidikan dan moral. Artinya untuk mengatasi persoalan ini mutu pendidikan dan moral harus ditingkatkan melalui peningkatan sarana dan prasarana pendidikan beserta infrastrukturnya, mengalokasikan anggaran secara proporsional, membuat undang-undang pendidikan yang memihak terhadap rakyat agar mampu menciptakan generasi tangguh dan profesional. (*/ksi)
 

KOMENTAR ANDA

komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

 

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 IT tribunpekanbaru.com (Dinoz). All rights reserved